Selasa, 07 Mei 2013

ALIRAN-ALIRAN TASAWUF


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Tasawuf, bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat melakukan sebuah pelarian, bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat berpangku tangan terhadap hidup. Melainkan, tasawuf adalah suatu metode penyucian jiwa dan pembening hati, yang menjadi bekal utama manusia dalam menggeluti ranah kehidupannya yang, pada dasarnya tidak pernah terlepas dari berbagia macam persoalan. Tasawuf membimbing manusia dalam pengembangan kinerja ukhrawi dan sekaligus juga duniawi. Seorang sufi, bukanlah seseorang yang melepaskan dirinya dari dunia. Melainkan, mereka adalah pribadi-pribadi yang mampu mengguncang dunia. Tidak pernah melarikan diri dari masalah, namun menyongsongnya. Dengan berbekal nurani yang tercerahkan, para sufi tampil ke depan dan menghadapi semua bentuk tirani bumi, serta membangun pondasi-pondasi peradaban dunia baru. Dalam berkemngnya ilmu tasawuf , dan banyak orang yang berpikir secara filosofis , maka lahirlah beberapa aliran yang didalamnya terdapat beberapa perbedaan yang sesuai dengan pemikirannya dan kepercayannya dari masing masing aliran .

B.   Rumusan Masalah
Berdsarkan latar belakang di atas , penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa saja aliran yang ada dalam perkembangan tasawuf ?

C.   Tujuan Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan :
1.      Untuk mengetahui aliran yang ada dalam perkembngan tasawuf beserta ajarannya.


D.   Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Data teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, yang artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dngan tema makalah.

E.   Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
1.2   Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan
1.4   Metode Penulisan

Bab II Pembahasan
A.    Macam-Macam Aliran Tasawuf

Bab III Penutup
Kesimpulan

Daftar Pustaka
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Macam – Macam Aliran Tasawuf
Orang yang pertama memberikan perhatian kepada tumbuhnya aliran-aliran dalam tasawuf Islam itu adalah Fakhruddin Al Razi. Secara garis besar, alam pemikiran tasawuf dalam Islam telah melahirkan tujuh aliran besar. Ketujuh aliran itu adalah :
1.      Aliran Ittihad (bersatunya manusia dengan tuhan)
Ittihâd berasal dari kata ittahad-yattahid-ittihâd (dari kata wâhid) yang berarti bersatu atau kebersatuan. Sedangkan ittihâd menurut Abû Yazîd al-Busthâmî secara komprehensif maupun secara etimologis berarti integrasi, menyatu, atau persatuan. Dan secara istilah, ittihâd merupakan pengalaman puncak spiritual seorang sufi, ketika ia dekat, bersahabat, cinta, dan mengenal Allah sedemikian rupa hingga dirinya merasa menyatu dengan Allah. Ittihâd dicapai dengan beberapa proses (maqâmât) dengan tazkiyat al-nafs hingga melewati mahabbah dan ma‘rifah kemudian mengalami fanâ’ dan baqâ’ sebagai pintu gerbang menuju ittihâd. Dengan kata lain sebelum mengalami ittihâd para sufi harus mengalami al-fanâ’ ‘an al-nafs dan al-baqâ’ bi Allâh. Fanâ’ secara etimologis berarti keluruhan diri kemanusiaan, hancur, lenyap dan hilang. Sedangkan baqâ’ secara etimologis berarti kekal, abadi, tetap dan tinggal.

Zun Nun Almisry (245 H) adalah sufi yang pertama kalinya mengemukakan faham ma`rifah dalam tasawuf dan dalam perkembangannya. Menurut Zun Nun, bahwa ma`rifah yang hakiki adalah ma`rifah sifat wahdaniyyah yang bagi wali-wali Allah secara khusus karena mereka menyaksikan Allah dengan hati mereka, maka terbukalah bagi mereka apa-apa yang tidak terbuka bagi orang lainnya. Dan ma’rifat adalah proses akhir, dan justru menjadi awal beragama secara sejati. Inilah makna dari perkataan yang masyhur dari salah seorang sahabat Rasul Ali r.a.: “Awaluddiina Ma’rifatullah”. Awalnya Ad-Diin adalah mengenal Allah. Makrifat justru baru awalnya beragama, bukan tujuan. Karena dengan mengenal Dia yang sebenarnya, barulah seseorang berinteraksi dengan Ad-Diin yang sebenarnya pula.

2.      Aliran Hulul (Inkarnasi)
Al-Hulul adalah kepercayaan bahwa Allah bersemayam di tubuh salah seorang, yang kiranya bersedia untuk itu, karena kemurnian jiwanya dan kesucian ruhnya. Di antara orang-orang yang menganut akidah dan kepercayaan ini ialah Al-Hallaj. Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi dalam al-Luma' sebagai dikutip Harun Nasution, adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Di dalam teks Arab pernyataan tersebut berbunyi: "Sesungguhnya Allah memilih jasad-jasad (tertentu) dan me-nempatinya dengan makna ketuhanan (setelah) menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan". Paham bahwa Allah dapat mengambil tempat pada manusia ini, bertolak dari dasar pemikiran al-Hallaj yang mengatakan bahwa pada diri manusia terdapat dua sifat dasar yaitu lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Ini dapat dilihat dari teorinya mengenai kejadian manusia dalam bukunya bernama al-thaiwasim. Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, la hanya melihat diri-Nya sendiri. Dalam kesendian-Nya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan diri-Nya sendiri, yaitu dialog yang didalamnya tidak terdapat kata ataupun huruf.

Tokoh yang mengembangkan paham al- Hulul, sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa tokoh yang mengembangkan paham al-Hulul adalah al-Hallaj. Nama lengkapnya adalah Husein bin Mansur al-Hallaj. la lahir tahun 244 H. (858 M.) di Negeri Baidha, salah satu kota kecil yang terletak di Persia. Dia tinggal sampai dewasa di Wasith, dekat Baghdad, dan dalam usia 16 tahun dia telah pergi belajar pada seorang Sufi yang terbesar dan terkenal, bernama Sahl bin Abdullah al-Tustur di Negeri Ahwaz. Selanjutnya ia berangkat ke Bashrah dan belajar pada seorang sufi bernama Amr al-Makki, dan pada tahun 264 H. ia masuk kota Baghdad dan belajar pada. al-Junaid yang juga seorang sufi. Selain itu ia pernah juga menunaikan ibadah haji di Mekkah selama tiga kali. Dengan riwayat hidup yang singkat ini jelas bahwa ia memiliki dasair pengetahuan tentang tasawuf yang cukup kuat dan mendalam. Dalam perjalanan hidup selanjutnya ia pernah keluar ma­suk penjara akibat konflik dengan ulama fikih. Pandangan-pandangan tasawuf yang agak ganjil sebagaimana akan dikemukakan di bawah ini menyebabkan seorang ulama fiqh bernama Ibn Daud al-Isfahani mengeluarkan fatwa untuk membantah dan memberantas pahamnya. Al-lsfahani dikenal sebagai ulama fikih penganut mazhab Zahiri, suatu mazhab yang hanya mementingkan zahir Nas ayat belaka. Fatwa yang menyesatkan yang dikeluarkan oleh Ibn Daud itu sangat besar pengaruhnya terhadap diri al-Hallaj, sehingga al-Hallaj ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi setelah satu tahun dalam penjara, dia dapat meloloskan diri berkat bantuan seorang sifir penjara.

3.      Aliran Ittishal
Aliran tasawuf Ittishal dikemukakan oleh para filsuf Islam terutama Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, dan Ibnu Tufail.

Abu Nasr Muhammad Al-Farabi di dalam mengemukakan konsepsinya tentang tasawuf, tidak terlepas dari keahliannya sebagi filsuf. Tasawuf menurut Al-Farabi, bukan hanya membahas masalah amal untuk kebersihan jiwa, memerangi hawa nafsu, dan kelezatan badaniyah saja, tetapi juga harus melalui akal dan pemikiran itu sendiri.

Al-Farbi memandang tingkat ma`rifah manusia dalam tasawuf adalah berjenjang naik dan apabila manusia telah berada diatas jenjang Al-Aqlul Mustafad maka manusia mampu menerima nur ketuhanan, berhubungan langsung dengan Al-Aqlul Fa`al.di tingkat ini manusia tidak lagi berada dalam tingkat ijtihad tetapi telah berda dalam tingkat pemberian Tuhan hingga dapat berhubungan langsung dengan Tuhan(Ittishal).

Al-Farabi mengemukakan bahwa sentral segal sesuatu adalah akal, maka dalam tasawufnya ia berpendapat bahwa tujuan tasawuf terkhir adalah pencapaian sa`dah yang tertinggi dalam wujud kesempurnaan ittishal dengan Al Aqlu Fa`al. Perkembangan akal dan peningkatannya tidak bisa lepas dari perkembangan jiwa, peningkatan dan pembersihannya.

4.      Aliran isyarq
Tokoh aliran Isyraq adalah Syihabuddin Yahya bin Hafash Suhraward. Sejak kecil ia telah belajar agamadan menghafal Al-Qur`an kemudian belajar di Maraghah berguru dengan Imam Mahyuddin Al Jilli, dilanjutkan dengan belajar kepada Zahiruddin Al Qari di Asfahan, dan diteruskan dengan belajar kepada Al Mardini.
Suhrawardi mendasarkan teori filsafatnya kepada Isyraq. Kata Isyraq berasal dari bahasa Arab yang berarti timur. Secara etimologi mengandung maksud terbitnya matahari dengan sinar yang terang.

5.      Aliran Ahlul Malamah
Kaum ini, setingkali disebut dengan sebutan Malamatiyyah, Malamiyyah atau terkadang juga disebut sebagai Ahl al-Malamah, yang pada dasarnya, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam dunia tasawuf.

Nama kaum ini, diambil dari kata malamah, yang secara bahasa yang artinya “celaan”, malamah mengandung arti bahwa mereka tidaklah menganggap pendapat orang dalam tingkah peribadatan mereka terhadap Tuhan. Kaum Malamati adalah orang-orang suci yang dengan sengaja menjalani kehidupan hina, dengan tujuan untuk menyembunyikan hakikat pencapaian spiritual mereka. Aliran Ahlul Malamah lahir di Nishapor pada bagian kedua abad ketiga hijriyah.Ahlul Malamah adalah sekumpulan orang yang mencela dan merendahkan diri mereka karena itulah tempat kesalahan-kesalahan.
Ajaran kaum malamatiyah ini pada dasarnya ialah mencela diri sendiri, merendahkan dan menghinakannya didepan orang untuk melindungi keikhlasan dan kedekatan dirinya dengan Tuhan, menjaga kemurnian ketulusan dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Pendiri kaum Malamatiyyah ini, adalah Hamdun al-Qashshar, sufi abad ke-3 H/9 M, yang berasal dari Naisyapur di Khurasan. Kaum Malamatiyyah mengikuti teladan dirinya, yaitu hidup secara batiniah dalam kebersatuannya dengan Allah, sementara secara lahiriah, mereka bertindak seolah-olah terpisah dari Tuhan. Dalam tasawuf, sikap pembawaan kaum Malamati ini merupakan sebuah watak permanen dalam spiritualitas Islam, meskipun, banyak penyalahgunaan yang dinisbatkan terhadap namanya, misalnya untuk mencampakkan syariat dan etika atau adab tradisional.

 Kaum Malamatiyyah adalah guru serta pembimbing dan pemimpin manusia di jalan Tuhan. Meskipun, tidak ada tindakan dari mereka yang tampak berbeda dari orang-orang awam. Satu di antara mereka, adalah Muhammad, Rasul Allah, orang bijak yang menempatkan segala sesuatunya di tempat yang seharusnya.

6.      Aliran Wahdatul Wujud (pantheisme)

      Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demi­kian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Kata wahdah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu kata al-wahdah digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan. Pengertian wahdatul wujud yang terakhir itulah yang se­lanjutnya digunakan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Harun Nasution lebih lanjut menjelaskan paham ini dengan mengatakan, bahwa dalam paham wahdat al-wujud, nast yang ada dalam hulul diubah menjadi khalq (makhluk) dan lahut menjadi haqq (Tuhan). Khalq dan haqq adalah dua bagian sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut Khalq dan yang sebelah dalam disebut Haqq. Kata-kata khalq dan haqq inj; merupakan padanan kata al-'Arad (accident) dan al-Jauhar (substance) dan al-Zahir (lahir-luar-tampak), dan al-bathin (da­lam, tidak
tampak).

      Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek, yaitu aspek luar yang disebut al-Khalq (makhluk) Al'arad (accident-kenyataan luar), zahir (luar-tampak), dan aspek dalam yang disebut al-haqq (Tuhan), al-jauhar (substance-hakikat), dan al-bathin (dalam).
      Selanjutnya paham ini juga mengambil pendirian bahwa dari kedua aspek tersebut yang sebenarnya ada dan yang terpenting adalah aspek batin atau al-haqq yang merupakan hakikat, essensi atau substansi. Sedangkan aspek al-khalq, luar dan yang tampak merupakan bayangan yang ada karena adanya aspek yang pertama (al'haqq). Paham ini selanjutnya membawa kepada timbulnya paham bahwa antara makhluk (manusia) dan al-haqq (Tuhan) sebenarya satu kesatuan dari wujud Tuhan, dan yang sebenarnya ada adalah wujud Tuhan itu, sedangkan wujud makhluk hanya bayang atau foto copy dari wujud Tuhan. Paham ini dibangun dari suatu dasar pemikiran bahwa Allah sebagai diterangkan dalam al-hulul, ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya, dan oleh karena itu dijadikan-Nya alam ini. Dengan demikian alam ini merupakan cermin bagi Allah. Pada saat la ingin meli­hat diri-Nya, ia cukup dengan melihat alam ini. Pada benda-benda yang ada di alam ini Tuhan dapat melihat diri-Nya, karena pada benda-benda alam ini terdapat sifat-sifat Tuhan, dan dari sinilah timbul paham kesatuan. Paham ini juga menga­takan bahwa yang ada di alam ini kelihatannya banyak tetapi sebenarnya satu. Hal ini tak ubahnya seperti orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Di dalam tiap cermin ia lihat dirinya kelihatan banyak, tetapi sebenarnya dirinya hanya satu. Dalam Fushush al'Hikam seba­gai dijelaskan oleh al-Qashimi dan dikutip Harun Nasution, fama wahdatul wujud ini antara lain terlihat dalam ungkapan: “Wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin ia menjadi banyak”

      Paham Wahdatul Wujud dibawa oleh Muhyiddin Ibn Arabi yang lahir di Murcia, Spanyol di tahun 1165. Setelah selesai studi di Seville, ia pindah ke Tunis di tahun 1145, dan di sana ia masuk aliran sufi. Di tahun 1202 M. ia pergi ke Mekkah dan meninggal di Damaskus di tahun 1240 M. Selain sebagai sufi, Ibn Arabi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Jumlah buku yang dikarangnya menurut perhitungan mencapai lebih dari 200, di antaranya ada yang hanya 10 halaman, tetapi ada pula yang merupakan ensiklopedia tentang sufisme seperti kitab Futuhah al'Makkah. Disamping buku ini, bukunya yang termasyhur ialah Fusus al-Hikam yang juga berisi tentang tasawuf.
Menurut Hamka, Ibn Arabi dapat disebut sebagai orang yang telah sampai pada puncak wahdatul wujud. Dia telah menegakkan pahamnya dengan berdasarkan renungan pikir dan filsafat dan zauq tasawuf. la menyajikan ajaran tasawufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit dengan tujuan untuk menghindari tuduhan, fitnah dan ancaman kaum awam sebagaimana dialami al-Hallaj.

7.      Aliran Ahlus Sunah
As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh atau cara pelaksanaan suatu amalan baik itu dalam perkara kebaikan maupun perkara kejelekan. Maka As-Sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah ialah jalan yang ditempuh dan dilaksanakan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabat beliau, dan pengertian Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang berupaya memahami dan mengamalkan As-Sunnah An-Nabawiyyah serta menyebarkan dan membelanya. Menurut bahasa Arab pengertiannya ialah dari kata Al-Jamu’ dengan arti mengumpulkan yang tercerai berai.
Istilah ahlu sunnah yang paling tua pernah dicatat adalah berasal dari kata-kata Ibnu Siiriin, seorang tabi'i yang hidup dizaman akhir pemerintahan Muawiyah dan awal pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Ibnu Siiriin hidup pada tahun 33H-110H. Kata-kata ibnu siiriin itu diabadikan dalam Sahih Muslim hadits nomor 27 sbb:

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ.

Dahulu kami tidak bertanya soal sanad, namun ketika terjadi fitnah maka sebutkanlah pada kami rijal2 kamu dan lihatlah bila itu dari ahlu sunnah maka ambillah hadits mereka dan lihatlah bila dari ahli bid'ah  maka janganlah kamu ambil hadits mereka.

  Walaupun dari asal kata ahlu sunnah di sini adalah orang yang mengikuti sunnah nabi, namun di balik itu bisa kita lihat muatan politisnya. Zaman fitnah yang dikatakan ibnu siiriin tentulah apa yang dia lihat dari pergolakan politik Muawiyah/Yazid melawan Ali ra. Sehingga ahlu bid'ah yang dimaksud pastilah Syiah. Hal ini berarti bahwa istilah ahlu sunnah pertama kali diperkenalkan bukan mengacu pada "yang mengikuti sunnah nabi" - karena Syiah juga meriwayatkan hadits/sunnah nabi-  melainkan lebih sebagai istilah anti syiah/golongan yang berseberangan dengan syiah, yaitu orang-orang yang berada di sisi muawiyah/yazid. Nampaknya kata-kata Ibnu siiriin inilah yang dikemudian hari membuat dua golongan yang asalnya merupakan golongan yang berbeda dalam orientasi politik berkembang menjadi dua aliran dalam islam: ahlu sunnah dan syiah.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

  Kalau kita lihat kepada berbagai aliran itu dengan ajran-ajaran yang terkandung didalamnya, maka sebagian dari aliran-aliran tersebut masih tetap berada dan  lurus  menurut  jalan yang di tetapkan oleh Al-Qur`an dan hadits, dan sebagian lainnya ada yang menyimpang dalam bentuk ajaran-ajaran yang ekstrim.

DAFTAR PUSTAKA


http://makalah-arsipku.blogspot.com/2011/01/aliran-tasawuf.html
http://sholawat.blogdetik.com/category/mencintai-rasulullah/page/103/
http://suryadhie.wordpress.com/2007/08/06/agama-aqidah-artikel-islam-7/
http://myquran.org/forum/index.php?topic=72127

Rabu, 01 Mei 2013

Konversi Agama


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Psikologi secara umum di pahami sebagai cabang dari filsafat,[1] yang secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan emosi. Namun dalam perjalanannya objek kajian psikologi bergeser kedalam wilayah agama sehingga muncul psikologi agama sebagai cabang dari psikologi itu sendiri.
Sedangkan perhatian bagi psikologi agama meliputi: bentuk-bentuk institusional agama, arti personal terhadap bentuk institusional dan hubungan agama dengan struktur kepribadian. Dalam tulisan ini akan sedikit dibahas mengenai konversi agama perpindahan agama/pertaubatan yang menurut Dr. Jalaludin dalam psikologi agama dikategorikan dalam bab tingkah laku keagamaan yang menyimpang.
Konversi agama adalah suatu Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain tetapi juga perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.  Adapun Permasalahan dalam materi konversi agama ini, dalam segi pengertian, faktor dan proses .
B.     Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dan dijadikan rumusan masalah dalam pembahasan kali ini adalah:
1.      Apa pengertian Konversi Agama ?
2.      Apa faktor penyebab terjadinya Konsersi agama ?
3.      Bagaimana Proses Konversi Agama ?


C.    Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui Apa pengertian Konversi Agama.
2.      Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya Konsersi agama .
3.      Untuk mengetahui Proses Konversi Agama.

D.    Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang dipakai penulis dalam penyusunan makalah ini adalah dengan menggunakan menggunakan metode kepustakaan dan internet.
E.     Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam makalah ini adalah:
1.      Kata pengantar
2.      Daftar Isi
3.      BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Penulisan
D.    Metode Penulisan
E.     Sistematika Penulisan
4.      BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Konversi Agama.
B.     faktor penyebab terjadinya Konsersi agama .
C.     Proses Konversi Agama.
5.      BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
6.      DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KONVERSI AGAMA
Secara Etimologi, Agama berasal dari bahasa latin conversion, yang berarti taubat, pindah, berubah (agama). Kata tersebut selanjutnya dipakai dalam bahasa Inggris conversion, yang mengandung pengertian berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain (change from state of from one religion to another). Dari makna-makna kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian; bertaubat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.
Makna konversi agama secara terminologi ada beberapa pengertian. Menurut Prof. Dr. Zakiyah Daradjat menyebutkan konversi agama secara terminologi berarti berlawanan arah, yang dengan sendirinya konversi agama berarti terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula.[2]
Maksud yang sama, dengan penterjemahan kata konversi agama sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin adalah suatu tindakan di mana seseorang atau kelompok orang yang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan arah dengan kepercayaan sebelumnya. Oleh karena itu mempunyai dua pengertian, pindah dari suatu agama ke agama yang lain atau pindah dari suatu tingkatan pendalaman dalam satu agama ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dari keadaan belum memahami menjadi memahami dan melaksanakan.
Walter Houston Clork dalam The Psychology of Religion memberikan pengertian konversi sebagai pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. Lebih jelas dan tegas lagi konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah swt secara mendadak, telah terjadi yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.
Istilah konversi agama ada dua madzhab. Pertama, makna konversi sesuai asal bahasa yakni perubahan. Semua perubahan disebut konversi, baik itu perubahan keyakinan dari Islam ke non Islam ataupun dari non Islam ke Islam yang jelas mengalami perubahan agama. Kedua, konversi agama juga banyak menyangkut masalah psikologi (kejiwaan) manusia dan pengaruh lingkungan dimana manusia berada.
Konversi agama memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
1.      Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
2.      Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
3.      Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain tetapi juga perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
4.      Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itu pun disebabkan faktor petunjuk dari yang Maha Kuasa.

B.     FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KONVERSI AGAMA

Beberapa ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi. William James dalam bukunya “The varietes of religious experience” dan Max Heirich dalam bukunya “change of heart” banyak menguraikan faktor yang mendorong terjadinya konversi agama tersebut.
Dalam buku tersebut diuraikan pendapat para ahli yang terlibat dalam berbagai disiplin ilmu. Masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konversi agama disebabkan faktor yang cenderung di dominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni.

1.      Para ahli agama mengatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supranatural berperanan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.
2.      Para ahli sosiologi berpendapat yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial.
3.      Para ahli psikologi berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang terang dan tenteram.[3]
Dalam uraian William james yang meneliti pengalaman berbagai tokoh yang mengalami konversi agam menyimpulkan sebagai berikut:
1.      Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul presepsi baru, dalam suatu bentuk ide yang bersemi secara mantap.
2.      Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak tanpa suatu proses.
Berdasarkan gejala tersebut maka dengan meminjam istilah yang digunakan starbuckia membagi konversi agama menjadi dua tipe yaitu :
a.       Tipe Volitional
Konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi secara berproses sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.
b.      Tipe Self-Surrender [Perubahan Drastis]
Konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi sevcara mrndadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan ini pun dapat terjdi dari kondisi yang tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya.
Pada konversi tipe kedua ini William James mengakui adanya petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri seseorang sehingga ia menerima kondisis yang baru dengan pencerahan jiwa sepenuh-penuhnya. Jadi ada semacam petunjuk [hidayah] dari Tuhan.[4]
Adapun Menurut Zakiyah Daradjat, ada lima faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi agama yaitu; ketegangan perasaan, pengaruh hubungan dengan tradisi agama, ajakan/ seruan dan sugesti, emosi dan faktor kemauan.
1.      Pertentangan Batin dan Ketegangan Perasaan
Orang-orang yang mengalami konversi agama dimana dalam dirinya terjadi kegelisahan, gejolak berbagai persoalan yang terkadang tidak mampu dihadapinya sendiri. Di antara ketegangan dan kegoncangan dalam dirinya karena tidak mempunyai seseorang dalam menguasai nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Sebenarnya orang tersebut mengetahui mana yang benar untuk dilakukan, akan tetapi tidak mampu untuk berbuat sehingga mengakibatkan segala yang dilakukannya serba salah, namun tetap tidak mau melakukan yang benar.
Kepanikan atau kegoncangan jiwa itu kadang membuat orang tiba-tiba mudah terangsang melihat aktivitas keagamaan seseorang atau kebetulan mendengar uraian agama yang mampu menggoyahkan keyakinan sebelumnya, karena yang baru itu dianggapnya dapat memberi ketenangan dari kepuasan batin dan mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.
2.      Pengertian Hubungan dengan tradisi Agama
Di antara pengaruh yang terpenting sehingga terjadi konversi agama adalah faktor pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya di waktu kecil, dan keadaan orang tua itu sendiri apakah termasuk orang yang kuat dan tekun beragama atau tidak.
Faktor lain yang tidak sedikit pengaruhnya dalam konversi agama adalah lembaga-lembaga keagamaan, masjid-masjid atau gereja-gereja. Aktivitas lembaga keagamaan itu mempunyai pengaruh besar terutama lembaga keagamaan sosialnya. Kebiasaan di waktu kecil melalui bimbingan-bimbingan di lembaga keagamaan itulah termasuk salah satu faktor yang memudahkan terjadinya konversi agama, jika pada usia dewasanya mengalami acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik jiwa dan ketegangan batin yang tidak teratasi.
1.      Ajakan/ Seruan dan Sugesti
Peristiwa konversi agama terjadi karena ajakan dan sugesti, yang pada mulanya hanya bersifat dangkal saja atau tidak mendalam tidak sampai pada perubahan kepribadian, namun jika orang yang mengalami konversi dapat merasakan ketenangan dan kedamaian batin dalam keyakinan itu dalam kepribadiannya.
Orang-orang yang sedang gelisah mengalami keguncangan batin akan mudah menerima ajakan dan sugesti atau bujukan dari orang lain, apalagi sugesti tersebut menjanjikan harapan akan terlepas dari kesengsaraan batin yang sedang dihadapinya. Karena orang yang sedang gelisah atau guncang batinnya itu inginnya hanya segera terlepas dari penderitaannya. Dengan datang membawa nasihat, bujukan dan hadiah-hadiah yang menarik akan menambah simpatik hati orang-orang yang sedang mengalami kegoncangan tersebut yang sedang membutuhkan pedoman baru yang dijadikan pedoman dalam hidupnya.
2.      Faktor Emosi
Salah satu faktor yang mendorong terjadinya konversi agama adalah pengalaman emosional yang dimiliki setiap orang dalam kaitannya dengan agama mereka.
Berdasarkan penelitian George A. Cob terhadap orang-orang yang mengalami konversi agama lebih banyak terjadi pada orang-orang yang dikuasai emosinya, terutama orang yang sedang mengalami kekecewaan akan mudah kena sugesti, terutama bagi orang emosional.
3.      Faktor Kemauan
Beberapa kasus konversi agama terbukti dari hasil suatu perjuangan batin dan kemauan yang ingin mengalami konversi, dengan kemauan yang kuat seseorang akan mampu mencapai puncaknya yaitu dalam dirinya mengalami konversi. Hal ini dapat diikuti dari riwayat hidup ai-Ghazali yang mengalaminya, bahwa pekerjaan dan buku-buku yang dikarang bukanlah datang dari keyakinan tapi datang dari keinginan untuk mencari nama dan pangkat.[5]
Menurut Penido Penido (dalam Ramayulis, 2002), berpendapat bahwa konversi agama mengandung dua unsur:
1. Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang di ambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
2. Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang berasal dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan. Sedangkan berbagai ahli berbeda pendapat dalam menentukan factor yang manjadi pendorong konversi (Motivasi konversi). James dan Heirich (dalam Ramayulis, 2002), banyak menguraikan faktor yang mendorong terjadinya konversi agama tersebut menurut pendapat dari para ahli yang terlibat dalam berbagai disiplin ilmu, masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konversi agama di sebabkan faktor yang cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni.[6]
C.    PROSES KONVERSI AGAMA
Perubahan yang terjadi tetap melalui tahapan yang sama dalam bentuk kerangka proses secara umum, kerangka proses itu dikemukakan:
1.      Carrier (dalam Ramayulis, 2002)membagi proses tersebut dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Terjadi desintegrasi sintesis kognitif (kegoncangan jiwa) dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.
b.      Reintegrasi (penyatuan kembali) kepribadian berdasarkan konsepsi agama yang  .Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur yang lama.
c.       Tumbuh sikap menerima konsepsi (pendapat) agama yang baru serta peranan yang di tuntut oleh ajarannya.
d.      Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
2.      Prof.Dr. Zakiah. Daradjat (1979) memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu:
a.       Masa tenang, disaat ini kondisi seseorang berada dalam keadaan yang tenang karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Terjadi semacam sikap apriori (belum mengetahui) terhadap agama. Keadaan yang demikian dengan sendirinya tidak akan mengganggu keseimbangan batinnya, hingga ia berada dalam keadaan tenang dan tentram. Segala sikap dan tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh atau menentang agama.
b.      Masa ketidaktenangan, tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya. Mungkin di karenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang di alami.Hal tersebut menimbulkan semacam kegoncangan dalam kehidupan batin sehingga menyebabkan kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panik, putus asa, ragu, tegang dan bimbang. Perasaan tersebut menyebabkan seseorang lebih sensitif dan hampirhampir putus asa dalam hidupnya dan mudah terkena sugesti. Pada tahap ini terjadi proses pemilihan terhadap ide atau kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya.
c.       Masa konversi, tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah. Keputusan ini memberikan makna dalam menyelesaikan pertentangan batin yang terjadi, hidup yang tadinya seperti dilamun ombak atau di porak porandakan oleh badai topan persoalan, tiba-tiba angin baru berhembus, sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk ilahi. Karena disaat ketenangan batin itu terjadi dilandaskan atas suatu perubahan sikap kepercayaan yang bertentangan dengan sikap kepercayaan sebelumnya, maka terjadilah proses konversi agama.
d.      Masa tenang dan tentram, masa tenang dan tentram yang kedua ini berbeda dengan tahap yang sebelumnya. Jika pada tahap pertama keadaan itu dialami karena sikap yang acuh tak acuh, maka ketenangan dan ketentraman pada tahap ketiga ini di timbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang sudah di ambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru. Setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah di lalui, maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru, rasa aman dan damai di hati, tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada kesalahan yang patut di sesali, semuanya telah lewat, segala persoalan menjadi mudah dan terselesaikan. lapang Dada, menjadi pemaaf dan dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.
e.       Masa ekspressi konversi, sebagai ungkapan dari sikap menerima, terhadap konsep baru dari ajaran agama yang diyakininya, maka tindak tanduk dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilih tersebut. Pencerminan ajaran dalam bentuk amal perbuatan yang serasi dan relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan.[7]
3.      Menurut Wasyim (dalam Sudarno, 2000) secara garis besar membagi proses konversi agama menjadi tiga, yaitu:
a.       Masa Gelisah (unsert), kegelisahan atau ketidaktenangan karena adanya gap antara seseorang yang beragama dengan Tuhan yang di sembah. Ditandai dengan adanya konflik dan perjuangan mental aktif.
b.      Adanya rasa pasrah
Pertumbuhan secara perkembangan yang logis, yakni tampak adanya realisasi dan ekspresi konversi yang dialami dalam hidupnya.  Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Segala bentuk kehidupan batin yang semula mempunyai pola sendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya secara spontan ditinggalkan sama sekali. Muncul gejala baru berupa perasaan serba tidak lengkap dan tidak sempurna, perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.
Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu mamilih pandangan hidup yang baru dalam kehidupan selanjutnya.
Sebagai hasil dari pemilihannya terhadap pandangan hidup itu maka seseorang tersebut bersedia dan mampu untuk memaktikan diri kepada tuntutan-tuntutan dari peraturan-peraturan dalam pandangan hidup yang dipilihnya. Makin kuat keyakinannya terhadap kebenaran pandangan hidup itu akan semakin tinggi pula nilai bakti yag diberikannya.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Walter Houston Clork dalam The Psychology of Religion memberikan pengertian konversi sebagai pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. Lebih jelas dan tegas lagi konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah swt secara mendadak, telah terjadi yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.
Adapun Menurut Zakiyah Daradjat, ada lima faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi agama yaitu; ketegangan perasaan, pengaruh hubungan dengan tradisi agama, ajakan/ seruan dan sugesti, emosi dan faktor kemauan.
Perubahan yang terjadi tetap melalui tahapan yang sama dalam bentuk kerangka proses secara umum, kerangka proses itu dikemukakan:
Menurut Carrier (dalam Ramayulis, 2002)membagi proses tersebut dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Terjadi desintegrasi sintesis kognitif (kegoncangan jiwa) dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.
b.      Reintegrasi (penyatuan kembali) kepribadian berdasarkan konsepsi agama yang  .Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur yang lama.
c.       Tumbuh sikap menerima konsepsi (pendapat) agama yang baru serta peranan yang di tuntut oleh ajarannya.
d.      Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.

 DAFTAR PUSTAKA
Ramayulis, psikologi Agama (jakarta. Klam Mulia 2007.
Darajat,Zakiah. Ilmu Jiwa Agama (Jakarta Bulan Bintang. 2005.
Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998.



[1] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 7.

[2] Prof. Dr. H. Ramayulis, psikologi Agama (jakarta. Klam Mulia 2007 ) hlm.79
[3] Prof. Dr. H. Ramayulis, psikologi Agama (jakarta. Klam Mulia 2007 ) hlm.80
[4] ibid
[5] Prof. Dr. Zakiah Darajat. Ilmu Jiwa Agama (Jakarta Bulan Bintang. 2005 ) hlm 184.
[6] Prof. Dr. H. Ramayulis, psikologi Agama (jakarta. Klam Mulia 2007 ) hlm.86
[7] Prof. Dr. H. Ramayulis, psikologi Agama (jakarta. Klam Mulia 2007 ) hlm.87