PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual,
sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya.
Berdasarkan hakikat tersebut, maka perkembangan memandang manusia sebagai
mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis,
sosiologis, kultural dan spiritual. Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada
salah satu diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidaksejahteraan atau
keadaan tidak sehat. Kondisi tersebut dapat dipahami mengingat dimensi fisik,
psikologis, sosial, spiritual, dan kultural merupakan satu kesatuan yang saling
berhubungan.
Dengan
mempertimbangkan pendekatan yang ditempuh Al-Qur’an dalam menghampiri
spiritualitas, kita harus memahami dengan jelas lebih dahulu apa yang
disiratkan oleh istilah spiritual daam konteks wacana masa kini. Spiritualitas
memiliki banyak arti bagi banyak orang. Ia adalah sebuah istilah yang akan
lebih tepat untuk mengatakan bahwa siapa saja yang memandang Tuhan atau Roh Suci sebagai norma yang penting dan
menentukan atau prinsp hidupnya.
Dalam Al-Qur’an,
bahwa manusia diciptakan dengan ruh yang memiliki citra keTuhanan.
﴿الَّذِي
أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ¤ ثُمَّ
جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ¤ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ
مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا
تَشْكُرُونَ﴾
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan
Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu
sedikit sekali bersyukur.” ( QS Al-Sajdah [32]: 7-9)
Karena
manusia memiliki tubuh yang harus dipenuhi kebutuhan fisiknya dan hal inilah
maka manusia sering kali melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan perintah
Tuhannya, yang membuat dirinya berada pada tahap perkembangan spiritual yang
paling bawah. Namun sebaliknya ketika kebutuhan spiritual yang terpenuhi pada
nantinya manusia akan dapat merasakan kesejahteraan yang tidak hanya terfokus
pada fisik maupun psikologis saja, tetapi juga kesejateraan dalam aspek emosi,
intelektual, dan sosial-nya.
Kesejahteraan spiritual adalah suatu faktor yang
terintegrasi dalam diri seorang individu secara keseluruhan, yang ditandai oleh
makna dan harapan. Spiritualitas memiliki dimensi yang luas dalam kehidupan
seseorang sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik dari psikologi sehingga
mereka dapat mengaplikasikannya dalam pemberian asuhan psikologi kepada
manusia.
Dari semua cabang ilmu kesehatan, ilmu kesehatan jiwa yang
paling dekat dengan agama, bahkan menurut Dadang Hawari (1996) terdapat titik
temu antara kesehatan jiwa dan agama. Pada prakteknya, ilmu pengetahuan dan
agama saling menunjang. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein, ilmu
pengetahuan tanpa agama bagaikan orang buta, tetapi agama tanpa ilmu
pengatahuan bagaikan orang lumpuh. Merujuk pada pentingnya pengetahuan dan
agama tersebut untuk jiwa yang sehat banyak penelitian dilakukan diantaranya
sebuah penelitian yang mengatakan kelompok yang tidak terganggu jiwanya adalah
yang mempunyai agama yang bagus dan sebaliknya.
Penelitian lain yang disebutkan dalam buku La Tahzan
seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memilki
koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya, ia tetap bahagia menjalani
hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah.
Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian
yang dilakukan oleh Pressman, dkk (1990) menunjukkan bahwa wanita lanjut usia
yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya,
ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat
berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.Dari hal-hal tersebut
diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai terapi
kesehatan.
Spiritual itu sendiri merupakan komitmen tertinggi individu,
prinsip yang paling komprehensif tentang argumen yang sangat kuat terhadap
pilihan yang dibuat dalam hidup (farran et al 1989 dalam potter & perry,
2005). Sedangkan keyakinan spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan
yang maha kuasa & maha pencipta. Sebagai contoh seseorang yang percaya pada
Allah sebagai pencipta atau sebagai maha kuasa (hamid, 2008). Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa spiritual merupakan suatu keyakinan didalam
diri yang berasal dari nilai-nilai ketuhanan dan nilai luhur dari yang diyakini
dan dijadikan sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi masalah dan ketenangan
hidup.
B. Rumusan Masalah
Identifikasi permasalahan berdasarkan materi yang dipelajari
yaitu Perkembangan Spiritual terdiri dari:
1. Pengertian Perkembangan Spiritual
2. Perkembangan Spiritual menurut beberapa ahli
3. Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Spiritual
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian Perkembangan Spiritual
2.
Untuk
mengetahui Perkembangan
Spiritual menurut beberapa ahli
3.
Untuk mengetahui Faktor
yang mempengaruhi Perkembangan Spiritual
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan Spiritual
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti
nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spirit memberikan
arti penting ke hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek
kehidupan seseorang. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya,
perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas
mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, dan harapan, melihat arti dari kehidupan
dan memelihara hubungan dengan sesama.
Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing
individu (Farran et al, 1989). Masing-masing individu memiliki definisi yang
berbeda mengenai spiritual, hal ini dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,
pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Menurut Emblen, 1992
spiritual sangat sulit untuk didefinisikan. Kata-kata yang digunakan untuk
menjabarkan spiritual termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas,
hubungan dan eksistensi. Spiritual menghubungkan antara intrapersonal (hubungan
dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan antara diri sendiri dan orang
lain), dan transpersonal (hubungan antara diri sendiri dengan tuhan/kekuatan
gaib). Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan
beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta
spiritual juga merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan dari
nilai-nilai dan sistem kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik
bila pemahamannya dibatasi. (Hanafi, djuariah. 2005).
B. Perkembangan Spiritual menurut Para ahli
1. Tahap Perkembangan Kepercayaan Fowler
James W. Folwer dalam buku Stages of Faith mengembangkan
teori tentang tahap perkembangan dalam keyakinan seseorang ( Stages of Faith
Development ) sepanjang rentang kehidupan manusia. Menurut Fowler,
kepercayaan merupakan orientasi holistik yang menunjukan hubungan antara
individu dengan alam semesta.
Teori perkembanggan spiritual Fowler terbagi atas 6 tahap
pada tahap pertama, kepercayaan intuitif-proyektif (usia 3-7 tahun), masih
terdapat karakter kejiwaan yang berlum terlindungi dari ketidak sadaran. Anaka
masih belajar untuk membedakan hayalanya dengan realitas yang sesungguhnya pada
tahap kedua, kepercayaan mythikal-literal (usia sekolah), seseorang telah mulai
mengembangkan keimanan yang kuat dalam kepercayaannya anak juga sudah mengalami
prinsip saling ketergantungan dalam alam semesta, namun ia masih melihat
kekuatan kosmik dalam bentuk seperti yang terdapat pada manusia. Pada tahap ke
tiga kepercayaan sintetik-konvensional (usia remaja) seseorang mengembangkan
karakter keimanan terhadap kepercayaan yang di milikinya. Ia mempelajari sistem
kepercayaannya dari orang lain disekitarnya, namun masih terbatas pada sistem
kepercayaan yang sama. Tahap ke empat kepercayaan individuatif-reflektif (usia
20-awal 40an), merupakan tahap percobaan dan pergolakan, dimana individu mulai
mengembangkan tanggung jawab pribadi dan persaannya terhadap kepercayaan.
Individu memperluas pandangannya untuk mencapai jalan kehidupannya. Pada tahap kelima kepercayaan kondingtif seseorang
mulai mengetahui berbagai pertentangan yang terdapat dalam realitas
kepercayaannya. Terjadi transendensi terhadap kenyataan dibalik simbol-simbol yang
diwariskan oleh sistem. Pada tahap ke enam, kepercayaan universal, terjadi
sesuatu yang disebut pencerahan manusia mengalami transendensi pada tingkat
pengalaman yang lebih tinggi sebagai dari pemahamannya terhadap lingkungan yang
konfliktual dan penuh parakdoksal. Menurut Fowler kebanyakan manusia berhenti pada tahap ke
empat, dan kebanyakan tidak mencapai tahap lima dan enam.
Teori Fowler banyak di pertanyakan, baik dari perspektif
psikologi maupun teologi dan dianggap belum memiliki validitas empirik. Meskiun
terdapat bukti bahwa anak berusia 12 tahun cenderung pada dua tahap awal
perkembangan. Namun terdapat bukti pada orang dewasa yang berusia 60-an
memiliki variasi yang diperhatikan pada tahap tiga keatas. Model ini mendapat
serangan dari metode ilmiah, karena kelemahan metodelogi. Kritik lain
mempertanyakan apakah tahap ini menunjukan komitmen Fowler sendiri berada dalam
tahap perkembangan spiritual tertinggi. Namun teori Fowler mendapatkan
lingkaran akademik keagamaan, dan menjadi titik awal yang penting untuk
berbagai dari penelitian lanjutan.
2. Tahap perkembangan spiritual sufistik
Menurut Islam, manusia yang lahir dengn jiwa yang suci (nafsi
zakiya). Namun, manusia juga lahir di dunia dengan memiliki eksistensi
fisik yang terdiri daridaging dan tulang. Keberadaan fisik manusia menimbulkan
keterkaitan dengan dunia tempat mereka tinggal, dan dapat memberikan kegelapan
dan menutupi keindahan dan kebijaksanaan yang tersimpan dalam diri mereka. Pada
asalnya, manusia dapat menjadi lupadan terus-menerus hidup dalam kesombongan.
Tujuan dari sufisme, seperti juga mistik lainnya, adalah
untuk membersihkan hati, mendidik dan mentransformasikan jiwa untuk menemukan
Tuhan. Tingkat terendah dalam jiwa manusia di dominasi oleh dorongan-dorongan
yang untuk memuaskan diri yang bersifat
egois dan tamak yang menjauhkan seseorang mendapatkan kebenaran. Tingkat
yang paling tinggi adalah jiwa yang murni, yang tidak memiliki dualitas dan
tidak terpisahkan dari Tuhan.
Terpada tujuh tingkatan spiritualitas manusia, dari yang
bersifat egoistik sampai yang suci secara spiritual, yang dinilai bukan oleh
manusia, namun angsung oleh Allah. Sebelum naik pada tingkat perjalanan yang
lebih tinggi, satu hal yang harus di ingat adalah mengenal karakteristik dari
masing-masing tingkatan, tingkatan ini terdiri dari:
a. Nafs Ammarah (The Commanding
Self)
Orang yang berada pada tahap ini adalah orang yang nafsunya
didominasi godaan yang mengajaknya kearah kejahatan. Pada tahap ini, seseorang
tidak dapat mengontrol kepentingan dirinya dan tidak memiliki moralitas atau
perasaan kasih. Hal ini menunjukan keinginan fisik dan egoisme. Pada tahap ini
kesadaran akal manusia dikalahkan oleh keinginan nafsu hewani. Manusai tidak
memiliki batasan moral untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Jiwa manusia
pada awalnya suci dan beriman, namun manusia terlena dengan kenikmatan duniawi dan tenggelam dalam nilai
materialistik.
b. Nafs Lawwamah (The Regretful Self)
Manusia memiliki kesadaran terhadap prilaku, ia dapat
membedakan yang baik dan yang buruk, dan menyesali kesalahan-kesalahannya.
Namun, ia belum memiliki kemampuan untuk merubah gaya hidupnya dengan cara yang
signifikan.
Pada tahap ini, terdapat tiga hal yang akan menjadi bahaya,
yaitu kemunafikan, kesombongan, dan kemarahan, yaitu mereka yang berada pada
tahap ini, ingin orang ain megetahui bahwa dirinya sedang berusaha untuk
berubah. Dia menunnjukan segala kebaikan dihadapan orang lain dan mengharap pujian
dari segala pihak. Orang yang munafik menginginkan pujian orang lain.
Kesombongan terjadi karena orang tersebut memandang bahwa segala usaha untuk
melakukan hal yang baik merupakan prestasi. Hal ini membuat dirinya merasa
sebagai orang yang terbaik, bahkan lebih baik dari pada semua orang. Kemudian,
kemarahan dapat timbul jika ia merasa dirinya tidak dihargai.
Mereka yang ada pada tingkat ini tidak bebas dari godaan.
Kekecewaan terhadap penghargaan orang lain atas perbuatan prilakunya dapat
membuat kembali pada tahap sebelumnya. Semakin orang lama pada tahap ini,
semakin banyak godaan yang ia terima.
c. Nafs mulhimah ( The Inspired Self)
Pada tahap ini orang mulaimerasakan ketulusan dari
ibadahnya. Ia benar-benar termotivasi pada cinta kasih, pengabdian dan
nilai-nilai moral. Tahap ini awal dari praktek sufisme yang sesungguhnya.
Perilaku yang umum pada tahap ini adalah kelembutan, kasih sayang, kreativitas
dan tindakan moral. Secara keseluruhan, orang yang berada pada tahap ini
memiliki emosi yang matang, menghargai dan dihargai orang lain.
Pada saat ini, manusia mulai mendapatkan pesan dar nuraninya
sendiri: semacam bisikan tnpa kata-kata yang memberinya inspirasi tentang arah
tujuan, mendorongnya dan memperkuat usahanya. Namun, terkadang kejahatan
menyamar dalam bisikan tersebut dengann mendorong sesuatu yang tampaknya baik
padahal tidak.untuk belajar membedakannya, orang ini harus belajar dengan
bantuan orang yang lebih berpengalaman, yaitu orang yang mampu membedakan ilham
yang sesungguhnyadengan imajinasi palsu yang jahat. Suara ego dapat dengan
mudah dianggap sebagai petunjuk, terutama jika ego mengubah bahasanya dari
material ke spiritual. Dalam badai ini, salah satu cara untuk menyelamatkannya
adalah mematuhi aturan agamanya, ia harus shalat, puasa, membayar zakat dan
lebih berhati-hati atas perbuatannya. Hadangan lain dalam tahap ini adalah
perubahan pemahaman dan pengindraan. Ia seolah lupa akan segala hal yang
diketahuiya, bahkan lupa pada diri sendiri. Ia melihat sesuatu berbeda, salah
memahaminya, dan membuat kesalahan. Ia merasa seperti dirinya sendiri tidak
benar-benar ada dan berimajinasi bahwa ia melebur dengan Allah. Namun,
sebenarnya ia menyadari bahwa ia memasuki periode ketidakberdayaan, kekosongan
dan kecemasan. Jika ia telah berperang dengan ego dan menjadi lelah dengan
aturan dan kewajiban agamanya, ia melakukan segala sesuatu seolah-olah semuanya
berasal dari Allah. Ia merasa telah menyatu dengan Allah, namun hal ini
menjadikannya kehilangan ketakwaan terhadap Allah. Ia melakukan berbagai dosa
atas nama Allah, dan menjadi budak kejahatan.
d. Nafs Muthma’innah ( The contended Self)
Pada tahap ini orangmerasakan kedamaian. Pergolakan pada
tahap awal telal lewat. kebutuhan dan
ikatan-ikatan lama tak lagi penting. Kepentingan diri mulai lenyap, membuat orang lebih dekat dengan Tuhannya. Tingkatan
ini membuat seseorang menjadi berpikiran terbuka, bersyukur, dapat di percaya,
dan penuh kasih sayang. Jika seseorang menerima segala kesulitan dengan
kesabaran dan ketakwaan, tidak berbeda ketika ia memperoleh kenikmatan, dapat
dikatakan bahwa seseorang telah mencapai
tingkat jiwa yang tenang. Seseorang mulai dapat melepaskan semua belenggu diri
sebelumnya dan mulai melakukan integrasi kembali semua aspek universal
kehidupan dalam dirinya.
Tahap ini merupakan tahap yang dilalui setelah perjalanan
panjang dan sulit setelah ia berperang dengan segala kejahatan dan nafsu dalam
dirinya, dengan godaan yang selalu menerpa kehidupan duniawinya. Ada saat ini
seseorang menerim perintah dari nafsu insani, yang menandakan kenikmatan
dari mengikuti aturan agama dan contoh
yang diberikan Nabi Muhammad Saw.. ia memiliki kualitas prilaku yang tinggi,
seperti pengasih, pemurah, sabar, pemaaf, ikhlas, bersyukur, bahagia dan damai.
e. Nafs Riyadhiyah ( The Pleased Self )
Pada tahap ini seseorang tidak hanya tenang dengan dirinya
namun juga tetap bahagia dalam keadaan sulit,
musibah cobaan dalam kehidupan. Ia menyadari bahwa kesulitan datang dari
Allah untuk memperkuat keimanan. Keadaan bahagia tidak bersifat hedonistik atau
materialistik, dan sangat berbeda dengan hal biasa dialami orang-orang yang
beroreantasi pada hal yang bersifat duniawi, prinsip memenuhi kesenanagan (pleasure
principle) dan menghindari rasa sakit (pain priciple). Jika
seseorang telah sampai pada tingkat mencintai dan bersyukur pada Allah, ia
telah mencapai tahap perkembangan spiritual ini. Namun, sedikit sekali yang
dapat ,encapai tahap ini.
Dari tahap sebelumnya sampai tahap ini, seseorang
mempelajari kata-kata atau contoh orang lain tentang dirinya melalui Ilm al-
yaqin medapatkan pengetahuan melalui pengalaman pribadi dan pewahyuan,
melalui Ayn al-Yaqin dari keyakinan. Sampai pada tahap ini, segalanya
bersifat relatif, namun sekarang ia telah mencapai kebenaran abadi. Manifestasi
dari hal ini adalah keadaan pengasih dan penyayang. Ia melihat segalanya
sebagai tindakan Allah yang sempurna, yang mencintai mereka dalam setiap setiap
situasi. Ia akan mendapatkan penyempurnaan dari segala yang terjadi. Hal ini
adalah “Kebenaran Islam”. Terdapat keseimbangan yang sempurna yang harus
disadari. Tidak ada kemungkinan kesalahan ketika dia menguasai nafsunya dalam
kepasrahan kepada Allah. Ia tidak menginginkan hal lain kecuali yang
dimilikinya. Namun, ketika ia berdoa, ia dengan cepat mendapatkan jawabannya.
Ia berada dalam tahta spiritualnya, di mana dunia luar ada untuk melayaninya.
Ketaqwaan, kepasrahan, kesabaran ,keyukuran, dan kecintaan kepada Allah
demikian sempurna, sehingga Allah menanggapinya dengan cepat ketika hamba-Nya
kembali kepada-Nya.
f. Nafs Madhiyah (The self Pleasing to God)
Mereka yang telah mencapai tahap lanjutmenyadari bahwa
segala kekuatan berasal dari Allah, dan tidak dapatvterjadi begitu saja. Mereka
tidak lagi mengalami rasa takut dan tidak lagi meminta. Mereka yang berada
dalam tahap ini telah mencapai kesatuan internal. Pada tahap awal, seseorang
mengalami pergolakan, karena mengalaqmi ketwerpecahan. Kaca yang pecah
menghasilkan ribuan bayangan dari satu pencitraan. Jika kaca menjadi bersatu
kembali, akan terlihat bayangan yang utuh, kesatuan penciptaan. Dengan
menyembuhkan keterpecahan dalam dirinya, seoarang sufi mengalami dunia sebagai
kesatuan yang utuh.
Tahap ini termaniffestasi melalui ikatan antara sang
pencipta dengan yang diciptakan-Nya, melalui persaan cinta yang mendasarinya.
Sang pencipta menemukan manusian yang sempurna (insan kamil) dalam kualitas
yang dianugrahi-Nya ketika ia menciptakannya. Nama atau sifat Allah
temanifestasi dalam diri manusia pada tingkat ini. Manusia yang sempurna ini
telah kehilngan karakteristik fisik hewan yang membuatnya menjadi tidak
sempurna dibah perintah nafsu. Sifat keilahiannya melekat dalam dirinya, dan ia
telah melihat realitas sejati, yaitu Kebenaran, karena ia telah dianugrahi Ayn
al- yaqin, keyakunan. Ia melihat keindahan dalam segalanya, memaafkan dalam
kesalahan yang tidak diketahui, ia sabar, murah hati, selalu memberi tidak
pernah meminta, mengabdi dengan membawa orang lain cahaya jiwa, dan melindungi
orang lain dari bahaya nafsu dan kegelapan duniawi. Segalanya dilakukan demi
Allah dan di dalam nama Allah.
Sulit untuk mengenali eksistensi mereka, karena tidak dapat
digambarkan dengan kata-kata. Mereka todak dapat dibandingkan dengan konsep
biasnya diketahui. Salah satu karakter yang dapat diberikan pada mereka adalah
mereka selalu berada dalam keadaan keseimbangan yang sempurna, sepertipusat
lingkaran, seperti pusat keseimbangan, tepat di tengah-tengah, tidak kuran atau
lebih. Tidak dapat yang dicapai keseimbangan tujuan, kecuali manusia yang
sempurna.
g. Nafs Safiyah ( The Pure Self )
Mereka yang telah mencapai tahap akhir telah mengalami
trandensi diri yang seutuhnya. Tidak ada nafs yang tersisa, pada pencapaian
dengan Allah di tahap ini, ia telah menyadari kebenaran sejati, “Tidak ada
Tuhan selain Allah” . sekarang ia menyadari tidak ada apa-apa lagi kecuali
Allah dan setiap indra manusia atau keterpisahan adalah suatu ilusi.
C. Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Spiritual
Spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang
dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi holistik. Perkambangan
spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu baik seperti halnya fisik.
Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi
perkembangan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama,
tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan
hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan
berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada
dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk
mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan
spiritual.
nutrisi
spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh
kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan
mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual.
Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga
yang terlihat buruk pun adalah sebuah keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian
dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu
bukanlah meminta Tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan
untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima.
Hal lain yang mempengaruhi perkembangan spiritual kita adalah latihan. Tidak
hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk
menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga
latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun
kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan
perasaan pada oring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian. Faktor
lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini
dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag
dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan
yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil.
Tantangan
yang dapat mengancam perkembangan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun
dari dalam dari kita. Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki
bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang
lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik
orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama memberikan bekal
keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang
melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk
mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk
tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat
tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita.
Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
KESIMPULAN
Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme
dalam kehidupaannya. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang
dibutuhkan oleh setiap manusia. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh
budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan.
Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan, dan melihat arti
dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama. Kebutuhan spiritual
adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan, memenuhi
kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan. Masalah
spiritual ketika penyakit, kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang.
Kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah
perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu mungkin mempertanyakan
nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya,
tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup. Perubahan perilaku mungkin menjadi
perwujudan dari disfungsi spiritual. Manusia yang gelisah tentang hasil tes
diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi
menderita distresss spiritual. Orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk
memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi
emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan
dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan
konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan
juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual.
Spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat
dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain ( fisiologis, psikologis,
sosiologis, kultural). Spiritual sangat berpengaruh terhadap koping yang
dimiliki individu. Semakin tinggi tingkat spiritual individu, maka koping yang
dimiliki oleh individu tersebut juga akan semakin meningkat. Sehingga mampu
meningkatkan respon adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri
individu tersebut. Peran pendidik adalah bagaimana mampu mendorong manusia
untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga manusia
mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan
yang terjadi pada diri individu tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Aliah Hasan Purwaka. (2006). Psikologi Perkembangan Islam, Jakarta.: PT Grafindo Persada.
Daniel G,.( 1999). Emotional Intelligence, Jakarta.:
gramdia, Pustaka Utama
Danah Zohar. (2000). Spiritual Intelligence The Ultimate
Intelligence:Great Britain
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik.
Bandung: PT Remaja Rosda
Gunarsa, Singgih. 1981. Psikologi Remaja. Jakarta:
Gunung Mulia
Hurlock, Elizabeth B. 1993. Perkembangan anak.
Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar